Cara Menilai Perusahaan Kontraktor Interior

06 Mar 2018 | Admin

Jasa kontraktor interior dewasa ini memang sangat dibutuhkan. Tingginya pertumbuhan industri properti di Indonesia sedikit banyak sangat mempengaruhi meningkatnya permintaan jasa desain interior tersebut. Ditambah lagi dengan tingkat edukasi masyarakat Indonesia yang cukup tinggi terhadap komunikasi visual sehingga standar untuk memilih penyedia jasanya pun ikut meningkat. Sekarang bahkan masyarakat awam sudah mengerti apa itu konsep minimalis, modern, gothic dan lainnya saat ingin membangun atau merenovasi rumah. Jadi komunikasi dan diskusi antara konsultan interior dengan kliennya bisa lebih hidup dan interaktif karena semua sudah memiliki bayangannya masing-masing. Berbeda dengan klien yang masih tidak paham tentang konsep ruangan dan pentingnya integrasi tema dalam satu bangunan. Biasanya untuk tipikal klien seperti ini, konsultan lebih banyak mengarahkan.

Agar tidak salah memilih kontraktor interior, apalagi untuk proyek-proyek skala besar seperti membangun apartemen atau perumahan, salah memilih mitra berarti fatal dalam pengerjaan proyek. Oleh karena itu, diperlukan kehati-hatian dan kejelian dalam memilih konsultan. Salah satunya dilihat dari seberapa banyak portofolio proyek yang pernah dikerjakan. Jika banyak, apakah di antara proyek-proyek tersebut ada yang mirip dengan proyek yang sedang ditawarkan? Jika mirip, apakah skalanya sebesar proyek tersebut atau lebih kecil? Hal-hal seperti ini kadang luput dalam pengamatan calon klien. Mungkin untuk skala kecil seperti renovasi rumah tidak masalah. Namun jika menyangkut "hajat hidup orang banyak", misalnya proyek properti indent di mana orang sudah menaruh DP, kemungkinan proyek mangkrak dan kontraktornya kabur bisa berakibat pengembang dituntut secara hukum oleh konsumen yang sudah menyetor dana. Hal ini pernah (dan bahkan sering) terjadi di Indonesia, bukan?

Setelah mengetahui bahwa portofolio dari calon kontraktor interior tersebut sesuai dengan kriteria, langkah berikutnya adalah menilai tim manajemennya. Ini seperti business inteligen. Mengumpulkan informasi dari berbagai sumber khususnya dari internet tentang siapa CEO dan dewan direksinya, siapa investornya, berapa lama perusahaan tersebut sudah berdiri, dan sebagainya. Apakah pimpinan perusahaan tersebut memilki rekam jejak yang positif, apakah ada berita-berita negatif terkait nama-nama yang berdiri di jajaran direksi, apakah perusahaan investor yang berada di belakangnya memiliki isu hukum, apakah mereka pernah mengerjakan proyek yang gagal, tentu info-info seperti ini harus dikumpulkan sebelum mengambil keputusan. Data awal bisa dilihat dari websitenya, namun website adalah etalase yang tidak mungkin menampilan hal-hal negatif. Calon klien harus mencari sendiri dari data-data yang tersebar di ranah dunia maya, termasuk kliping-kliping dari media-media ternama.

Faktor lain yang bisa dinilai dari sebuah perusahaan kontraktor interior adalah testimoni. Carilah testimoni dari klien-klien yang pernah memakai jasa mereka. Biasanya perusahaan yang  transparan akan menampilkan siapa-siapa saja yang pernah memakai jasa mereka di saluran-saluran media mereka, khususnya website. Namun jika mereka tidak punya website tapi saat presentasi berani mengklaim merk-merk besar sebagai klien mereka, maka jangan langsung percaya. Harus melakukan krocek terlebih dahulu. Lebih bagus jika punya kenalan langsung di perusahaan-perusahaan yang "dicatut" tersebut untuk minta konfirmasi apakah benar mereka pernah menggunakan jasa kontraktor tersebut. Ambillah secara acak, tidak perlu semua perusahaan dicek satu per satu.

Jika memang tidak punya kolega langsung untuk mericek klaim dari perusahaan kontraktor interior tadi, maka mau tidak mau harus mencari melalui Internet dengan kata kunci tertentu atau mencari tahu melalui asosiasi-asosiasi yang berkaitan dengan industri interior.

Komentar(0)

Tambahkan Komentar

Komentar akan ditampilkan setelah disetujui