Bagaimana Menghitung RAB untuk Proyek Interior

04 Feb 2018 | Admin

Saat berminat untuk membangun maupun merenovasi rumah, hal pertama yang dipikirkan adalah biayanya. Setelah biaya dapat, barulah mencari tukang yang profesional. Terkadang bahkan ada yang menggunakan cara sebaliknya. Mencari tukang dulu, lalu tukang tersebut dijelaskan keinginan pemilik rumah perihal interior yang akan dibangun nanti, kemudian tukangnya disuruh menghitung biaya anggaran pembangunan atau Rencana Anggaran Biaya (RAB). Persoalannya adalah, terkadang cara menghitung RAB interior oleh tukang berbeda dengan konsultan interior. Tukang adalah pelaksana dari desain yang telah dirancang. Kadang mereka menggunakan asumsi berdasarkan pengalaman membangun di tempat lain saat mengajukan rencana biaya. Padahal antara satu rumah dengan rumah lain berbeda karakter, pilihan material, konsep dan luasannya. Sementara seorang desainer interior menghitung secara rinci, akurat dan detail sehingga bisa dipertanggungjawabkan.

Sebenarnya, konsumen sebagai orang yang nantinya akan menempati rumah tersebut bisa menggunakan cara menghitung RAB interior sesuai kebutuhannya. Rencana Anggaran Biaya ini sebenarnya sama seperti ketika menghitung rencana belanja bulanan. Dikalkukasikan berdasarkan kebutuhan rutin, kebutuhan khusus dan dana cadangan apabila terjadi hal-hal yang tidak terduga. Demikian pula ketika menyusun RAB untuk rumah, khususnya bagian interior. Apalagi jika sebelumnya sudah melakukan survei terhadap bahan bangunan. Hal terpenting dari renovasi atau pembangunan interior adalah konsep dan gambar yang akan diaplikasikan dalam bangunan fisik. RAB dibuat berdasarkan konsep tersebut, bukan asumsi yang tidak ada pijakannya. Karena itu, mulailah dari pematangan konsep dan pembuatan gambar.

Setelah itu, gambar yang telah dirancang baru diturunkan per item dalam bentuk bahan material yang digunakan. Seperti, bata apa yang akan digunakan? Kualitas semen? Kayu yang dipakai untuk rangka? Jika akan menggunakan atap kayu, kualitas kayu seperti apa yang akan dipilih agar tidak mudah keropos karena dimakan rayap? Bagaimana pemilihan keramiknya? Keramik untuk ruang tamu tentu berbeda dengan keramik untuk toilet. Jendela yang akan dipakai seperti apa dan terbuat dari apa materialnya? Berapa kaleng cat yang dibutuhkan? Semua ini bisa tertuang saat menggunakan cara menghitung RAB interior untuk hunian pribadi.

Dan ini baru berbicara tentang fisik bangunan. Belum bicara tentang furnitur yang terkadang menjadi bagian dari interior. Pemilihan kursi, meja, lemari dapur, lampu hias, wallpaper, dan sebagainya, perlu dihitung juga. Terkadang ada orang yang cara menghitung RAB interior rumahnya tidak memasukkan biaya-biaya furntir seperti itu. Padahal, konsep interior tersebut dibangun terintegrasi dengan elemen-elemen yang ada di dalamnya. Bayangkan, jika bangunan interior berkonsep minimalis namun furniturnya sangat modern dan bahkan vintage. Tentu pemandangannya menjadi timpang dan kurang enak dilihat dari sisi visual. Oleh karena itu, anggarkan juga biaya untuk pembelian elemen-elemen interior yang seirama dengan konsep besarnya.

Hal terpenting lain saat menggunakan cara menghitung RAB interior adalah pertimbangkan tentang nilai estetikanya. Menghemat tentu sah-sah saja, namun apabila pengetatan biaya interior berakibat hasil bangunan jadi kurang sedap dipandang, lebih baik menunda sampai dananya benar-benar cukup. Contohnya, biaya yang ada sanggup menyelesaikan ruang makan dan ruang tamu, namun kamar tidur dan dapur tidak bisa menyesuaikan dengan konsep. Beda sendiri. Rumah akhirnya seperti terbagi menjadi “dua dunia” yang berbeda. Lebih baik renovasi maupun pembangunan ditunda terlebih dulu. Atau kalau sudah mendesak, sesuaikan konsep dengan dana yang ada. Bisa juga dengan memilih bahan material yang berkualitas nomor dua. Namun hal ini sebaiknya dijadikan pilihan terakhir saja.

Komentar(0)

Tambahkan Komentar

Komentar akan ditampilkan setelah disetujui